Wednesday, March 16, 2011

FAKTOR yang paling menentukan KEBERHASILAN beternak ayam

Pakan menjadi faktor yang menentukan performance ternak, karena sekitar 60% cost produksi terpakai oleh pakan. Genetik dalam hal ini kualitas DOC adalah faktor berikutnya yang menentukan performance, dengan cost sekitar 20%. Sedangkan environment, adalah faktor berikutnya yang menjadi konsentrasi peternak untuk memperbaiki performance. Masih adakah faktor yang lain yang paling menentukan? Jawabannya adalah ADA.

Rumus umum yang biasa digunakan untuk menghasilkan performance yang excellence adalah :
P = (N+G+E) x M
P = Performance
N = Nutrition
G = Genetic
E = Environment
M = Management

Dapat kita lihat faktor nutrisi, genetik, dan lingkungan dalam rumus tersebut masih dalam kalkulasi faktor tambah, sedangkan Management dalam kalkulasi rumus tersebut sebagai faktor perkalian. Tentunya rumus hitung perkalian akan membuat perbedaan yang sangat signifikan dibandingkan dengan penambahan.

Konkretnya marilah kita membuat simulasi, jika faktor N, G, dan E bagus dan perfect, di angka 10, namun M di buat dua isian yang ekstrim yaitu 5 dan 10, artinya manajemen yang buruk dan yang baik.

P1 = (10+10+10) x 5  = 150
P2 = (10+10+10)x 10 = 300

Sangat ekstrim hasilnya, P2 adalah dua kali lipat hasil P1. M Inilah FAKTOR yg paling menentukan keberhasilan beternak ayam. Manajemen di sini lebih ditujukan kepada Sumber Daya Manusia (SDM) nya. Istilah yang paling dikenal adalah A Man Behind The Gun, jadul atau canggihnya sebuah senjata, sangat ditentukan SIAPA yang menggunakannya.

Sebagus apapun sarana produksi peternakan (sapronak) yang disediakan jikalau manajemen (SDM) jelek makanya hasilnya juga tidak akan sesuai yang diharapkan. Namun sebaliknya, sejelek apapun sapronak yang disediakan, jikalau SDM nya bagus, masih ada harapan persformance itu membaik, tidak gagal sama sekali.

SDM yang dibutuhkan di bidang peternakan ayam ini memang sangatlah unik, tidak diperlukan orang yang cerdas secara IQ, akan tetapi kriterianya adalah:
  1. Jujur, apa yang dikatakan sesuai dengan apa yang dilakukan. Hal ini berkaitan dengan kontrol manajemen aktifitas kerja  maupun manajemen asset. Sehingga apa yang dilaporkan selesai dikerjakan faktanya memang sudah selesai dikerjakan, dan asset yang ada di kandang terjaga, baik itu barang bergerak maupun barang tidak bergerak.
  2. Telaten, pekerjaan dikerjakan dengan tidak terburu-buru, sehingga urutan dari A sampai Z bisa dikerjakan tanpa ada yang terlewatkan.
  3. Peka, jika ada perubahan cuaca ataupun kondisi darurat maka cepat tanggap untuk merespon dengan aktifitas yang cekatan. Misalnya, di tengah hari panas, tiba-tiba mendung terus hujan, maka responnya secepatnya menurunkan layar kandang supaya suhu di dalam tidak tiba-tiba berubah dari panas menjadi ekstrim dingin, yang bisa menyebabkan stress pada ayam.
  4. Amanah, pekerjaan dikerjakan dengan ikhlas, tetap konsisten meskipun tidak ada atasan menunggui.
Memang di jaman sekarang sulit menemukan seorang anak kandang, mandor, supervisor, dan manajer seperti kriteria di atas. Namun yang mendekati kriteria tersebut yakinlah bahwa masih banyak sekali.Yang perlu diperhatikan para owner bisnis ini adalah kesejahteraan SDM tersebut. Penulis masih banyak ditemukan di jawa barat dan sekitarnya, upah anak kandang sangat minim. Sampai dengan tahun 2011 ini masih ditemukan upah anak kandang Rp 250.000 per bulan untuk memelihara 3.000 ekor ayam broiler. Dengan uang Rp 250.000 tersebut mungkin kurang untuk konsumsi makan sehari-hari selama satu bulan. Ada tambahan jika performance ayam sangat bagus, dapat bonus Rp 200.000, itupun sangat jarang didapatkan, karena sistem bonus adalah kumulatif dengan seluruh kandang dalam satu flok. Misalnya satu flok populasi 20.000 ekor, jika performance yang bagus hanya 10.000 ekor maka bonus tidak bisa keluar. Performance Indeks Prestasi harus mencapai 280-300 untuk populasi 80-100%. Bisa dibayangkan, bagaimana semangat kerja anak kandang akan terpacu jika basic upahnya sangat minim, dan kemungkinan untuk mendapatkan bonus sangatlah kecil (sulit). Dan bisa ditebak performance yang dihasilkan pastilah sangat jauh dari apa yang bisa diharapkan.

Seharusnya upah anak kandang sudah harus disesuaikan dengan Upah Minimum Regional (UMR) setempat. Kondisi ini sangat memprihatinkan bagi kesejahteraan anak kandang, dan performance ayam yang dihasilkan pastilah jauh dari bagus.

Pesannya jelas, naikkan kesejahteraan anak kandang, dan seleksilah kriteria SDM dengan fair, maka performance ayam akan bisa tercapai dengan optimal.

No comments:

Post a Comment