Thursday, August 4, 2011

Feedlot bisa menerima Sapi Lokal?

 
Bisnis Fattening atau Penggemukan Sapi Potong menjanjikan keuntungan dengan siklus usaha yang relatif singkat. Istilah lain adalah Feedlot, yaitu memelihara sapi bakalan (siap digemukkan) yang didapatkan dengan impor sapi jenis Brahman X (cross) dari Australia, dalam waktu tiga bulan untuk mendapatkan nilai tambah dari pertambahan bobot badan yang maksimal, kualitas daging dan persentase karkas yang lebih baik.

Sebelumnya bisnis trading sapi (impor sapi bakalan langsung dijual) dilarang oleh pemerintah karena tidak memutar roda perekonomian. Makanya beberapa Feedlotter (Perusahaan Feedlot) mengembangkan kapasitas bisnisnya secara signifikan untuk menangkap peluang bisnis ini. Namun, dengan adanya program pemerintah untuk mewujudkan swa sembada daging pada tahun 2014 dengan pemberdayaan sapi lokal, dan pembatasan kuota sapi impor sebesar 500.000 ekor per tahun, maka kapasitas produksi dari Feedloter tersebut tidak dapat terpenuhi.

Pada awal juni 2011 pemerintah Australia melakukan pelarangan ekspor sapi hidup ke Indonesia, setelah didesak oleh warganya karena isu Animal Welfare (kesejahteraan hewan) muncul akibat tayangan di televisi bahwa proses pemotongan sapi di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) melanggar kaidah Animal Welfare. Pelarangan ini berlaku enam bulan ke depan sampai dilakukan perbaikan prosedur pemotongan hewan di RPH sesuai kaidah Animal Welfare tersebut.

Para Feedlotter harus mencari alternatif sumber sapi, karena dengan pembatasan kuota impor saja sudah tentu kapasitas tidak terpenuhi, apalagi dengan stop impor. Bisa mengurangi tenaga kerja banyak jika tidak ada sapi yang dipelihara, dan roda perekonomian tidak berputar. Maka sapi lokal menjadi pilihan untuk mengisi kandang Feedlot, tentunya harus menerima segala sisi negatifnya yaitu:
  1. Strain, umur dan kondisi sapi tidak seragam
  2. Sumber dari berbagai tempat yang sangat berbeda iklim nya
  3. Perlakuan pemeliharaan sapi lokal sangat berbeda-beda, jadinya untuk bisa diberi perlakuan yang seragam, membutuhkan waktu lebih lama untuk adaptasi
  4. Adaptasi yang lebih mengakibatkan stress yang membuat waktu pemulihan yang lebih lama
  5. Kandang sistem pen yang bisa diisi sapi impor dalam 1 pen misalnya 75 ekor, maka dengan sapi lokal yang terbiasa di tali keluh (tali di hidung) menjadi hanya bisa di isi sepertiganya.
  6. Waktu pemeliharaan lebih lama, jika sapi impor bisa 3 bulan panen, maka sapi lokal minimal 6 bulan baru bisa panen.
  7. Efek dari lama pemeliharaan ini menjadikan cash flow menjadi tidak selancar dari sebelumnya.
  8. Tataniaga sapi lokal yang lumayan panjang dari peternak, blantik, pengumpul, sampai ke feedlot, menyebabkan harga sapi lokal tidak murah diterima di Feedlot
Begitulah konsekuensi yang diterima Feedlotter untuk bisa terus memutar roda bisnisnya dengan menerima sapi lokal. Namun demikian, pasar daging sapi lokal memang masih bagus, karena taste nya cocok untuk masyarakat indonesia.

No comments:

Post a Comment